1. Pertempuran Medan Area (13 Oktober 1945)
Pada tanggal 13 Oktober 1945 insiden bermula terjadi di Hotel Bali Medan ketika seorang penghuni hotel merampas dan menginjak injak lencana merah putih yang dipakai oleh warga setempat. Hotel tersebut langsung diserbu pemuda. Sekutu dan NICA mengultimatum para pemuda agar menyerahkan senjatanya. Sekutu mulai melakukan aksi teror meneror, tetapi pemuda dan TKR berhasil menghadang serta menyerbu pasukan sekutu.
Pada tanggal 20 Oktober 1945 tentara sekutu dibawa pimpinan Brigadi Bethel mendarat di Semarang dengan maksud mengurus tawanan perang dan tentara Jepang yang berada di penjara Ambarawa dan Magelang. Akan tetapi sekutu dan NICA mempersenjatai para bekas tawanan tersebut. Konflik bersenjatapun terjadi pada tanggal 26 Oktober 1945 di Magelang.
3. Pertempuran Surabaya (10 November 1945)
Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah proklamasi dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarahr revolusi nasional Indonesia. pada saat itu Inggris mengultimatum kepada seluruh pimpinan Indonesai agar melapor pada waktu dan tempat yang telah di tentukan dengan meletakan tangan diatas kepala. Selanjutnya mereka harus menandatangani dokumen berisi penyerahan tanpa syarat dan para pemuda yang bersenjata harus menyerahkan senjatanya sambil membawa bendera putih sebagai tanda menyerah. Batas waktu yang ditentukan paling lambat pukul 06.00 tanggal 10 November 1945. Jika ultimatun ini tidak ditindakan, Inggris akan mengerahkan seluruh kekuatan angkatan perangnya untuk menghancurkan Surabaya.
Pukul 22.00 tanggal 9 November 1945 Gubernur Soeryo melalui siaran radio menolak ultimatun Inggris. Setelah batas waktu 5 tahun habis, pertempuran takdielakan pada 10 November di Tanjung Perak. Di tempat ini pasukan Inggris berhasil mengendalikan perlawanan rakyat Surabaya. Para rakya Surabaya memilih "Merdeka" atau "Mati".
3 minggu lamanya para pejuang berhasil mempertahankan Surabaya dari penduduk Inggris. Surabaya memang hancur, tetapi pertempuran ini menunjukan suatu semangat serta sikap pantang mundur para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan
Pada bulan September 1945, datanglah tentara sekutu yang memabawa serta NICA. Mereka bermaksdu menegakan kendali pemerintah Belanda di Kota Manado. Dalam kerangka itu, tentaara Sekutu mengumumkan larangan mengibarkan bendera merah putih di seluruh wilayah Minahasa. Kedatangan tentara Sekutu NICA serta tindak-tanduk mereka di Manado memicu kemarahan rakyat Minahasa. Hal ini memicu konflik bersenajata
5. Peristiwa Bandung Lautan Api (23 Maret 1946)
Pertempuran yang terjadi di Bandung ini lebih dikenal dengan sebutan Peristiwa Bandung Lautan Api. Disebut demikian karena pda tanggal 23 Maret 1946 para pejuang Indonesia membumihanguskan Kota Bandung bagian selatan untuk mencegah tentara Sekutu dan NICA menggunakan semua fasilitas sebagai markas strategis militer mereka.
6. Pertempuran Margarana atau Puputan Margarana (18 November 1946)
Pertempuran yang terjadi di Margarana yang terletak sebelah utara Kota Tabanan, bali, ini dipicu oleh hasil perundingan Linggarjati. Salah satu butir hasil perundingan tersebut menyatakan bahwa pengakuan secara de facto atas wilayah kekuasana Indonesia hanya meliputi Jawa, Madura, dan Sumatera. Selanjutnya, Belanda diharuskan sudah meninggalakan daerah de facto tersebut paling lambat tanggal 1 Januari 1949. Dengan demikian, Bali tidak menjadi bagian dari Indonesia. Hal melukai hati rakyat Bali
Perang di Margarana ini juga dikenal dengan istilah perang Puputan, yaitu perang yang dilakukan sampai titik darah penghabisan.
7. Pertempuran Westerling di Makassar (7 Desember 1946)
Tragedi pembantaian westerling – Pembantaian Westerling / Westerling Makassar adalah sebutan untuk peristiwa pembunuhan ribuan rakyat sipil di Sulawesi Selatan yang dilakukan oleh pasukan Belanda Depot Speciale Troepen pimpinan Raymond Pierre Paul Westerling. Peristiwa ini terjadi pada bulan Desember 1946-Februari 1947 selama operasi militer Counter Insurgency (penumpasan pemberontakan).
Peristiwa ini dilatar belakang oleh pembantaian yang dilakukan oleh tentara komando pasukan khusus Belanda bernama Depot Speciale Troepen (DST) pimpinan Raymond Pierre Paul Westerling itu berlangsung sejak Desember 1946 hingga awal akhir 1947 Pengiriman DST dilakukan Belanda untuk mengatasi kegigihan rakyat Sulsel melakukan perlawanan usai proklamasi kemerdekaan Indonesia terhadap tentara NICA (Nederlands Indisch Civil Administration) yang kembali datang ke tanah air dengan membonceng tentara sekutu.Sebanyak 123 tentara pasukan pembunuh dipimpin Kapten Westerling datang ke Makassar pada 5 Desember 1946. Kedatangan DST itu untuk membantu tentara NICA yang sudah berada di Makassar bersama tentara sekutu pada 23 September 1945.
.
.
.
.
.
Blog ini disusun oleh : Kelompok 4
- Azzahra
- Dwi
- Hadi
- Moch
- Tadjudin
- Yunas
- Zulfikar







Wahhh sangat bermanfaat huee, thx min:)😁
BalasHapusMakasih gan;) support terus ya gan biar banyak post bermanfaat;)
HapusArtikel yang bermanfaat 👍👍👍
BalasHapusHehe;) makasih gan, bantu share ya:)
HapusFps image nya low yk
BalasHapusTerimaksih atas kripikanya gan, kami coba perbaiki ples mines nya hehe;)
HapusBermanfaat sekali, sangat membantu. Terus semangat
BalasHapus